“Kindness in words creates confidence. Kindness in thinking creates profoundness. Kindness in giving creates love.” ― Lao Tzu

July 26, 2015

JEZEBEL

RATU ISRAEL DAN JUDAH KUNO YANG ABADI:
PENAFSIRAN CERPEN “JEZEBEL” KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA DENGAN PEMAHAMAN HERMENEUTIKA DILTHEY[1]
oleh
Indraswari Pangestu (1206268150)

Hermeneutika—seperti yang dikatakan Palmer (1969) dan dikutip oleh Abdul Hadi W.M. dalam bukunya yang berjudul Hermeneutika Sastra Barat dan Timur (2014)—adalah teori penafsiran berkenaan dengan permasalahan umum dalam memahami makna teks. Adapun, Mircea Eliade, dalam The Encyclopedia of Religion (1993), mengartikan hermeneutika sebagai seni menafsir yang di dalamnya terdapat tiga komponen penting yang tidak dapat dipisahkan, yaitu teks, penafsir, dan pembaca. Dapat disimpulkan bahwa hermeneutika adalah penafsiran sebuah karya yang terkait dengan makna teks dan permasalahan umum.
Istilah hermeneutika pertama kali diperkenalkan oleh Homerus, tetapi kemudian dipopulerkan oleh Plato dalam bukunya yang berjudul Politikos, Definitione, Ion, dan Timaeus[2]. Plato juga mengaitkan hermeneutika dengan spiritualitas sehingga sebuah teks dapat terhubung dengan asas metafisika. Dalam esai ini, penulis membahas tentang penafsiran cerpen “Jezebel” (1999) karya Seno Gumira Ajidarma yang dikaitkan dengan kepercayaan spiritual bangsa Israel dan Judah Kuno. Penafsiran tersebut dilakukan dengan menggunakan prinsip-prinsip hermeneutika dari Wilhelm Dilthey (1957).
Ilmu hermeneutika berkembang pesat pada abad ke-19 saat Dilthey menguraikan pemikirannya tentang penafsiran terhadap sebuah teks. Menurutnya, untuk menafsirkan sebuah teks, seseorang harus mengikuti tiga tahapan penerapan hermeneutika, yaitu (1) pengumpulan, pemilihan, dan penafsiran data, (2) penelitian sejarah atau kesejarahan teks, serta (3) penyelesaian lingkaran hermeneutik pemahaman[3]. Ketiga prinsip hermeneutika tersebut dapat digunakan untuk menafsirkan cerpen “Jezebel” karya Seno Gumira Ajidarma yang dikaitkan dengan keadaan historis dan kepercayaan bangsa Israel dan Judah Kuno.
Cerpen “Jezebel” adalah salah satu cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang tergabung dalam antologi cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku (2002). Kumpulan cerpen tersebut diterbitkan di Jakarta oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. Terdapat sebelas cerpen di dalam antologi tersebut, termasuk “Jezebel” yang dituliskan Seno Gumira Ajidarma pada tahun 1999. Kesebelas cerpen yang terdapat dalam antologi tersebut memiliki latar tempat pantai dan laut, serta latar waktu senja. Cerpen “Jezebel” pun bercerita tentang seorang perempuan bernama Jezebel yang berjalan di tepi pantai pada waktu senja. Seno Gumira Ajidarma menuliskan bahwa cerpen tersebut dikembangkan dari dua buah lagu yang berjudul “Jezebel”, masing-masing dinyanyikan oleh Edith Piaf dan Sade Adu[4].
Tuti Kusniarti, dalam artikelnya yang berjudul “Teks Sastra sebagai Media Komunikasi Antarbangsa (Kajian atas Novel Dari Fontenay ke Magallianes Karya N.H. Dini)” (2010), menyatakan bahwa makna karya sastra tidak bersifat tunggal, tetapi multi-interpretasi yang akan mengungkapkan berbagai dimensi kekayaan teks yang bersangkutan. Hal tersebut mendukung penulis untuk menafsirkan sebuah karya sastra. Dengan demikian, penulis dapat memenuhi kaidah pertama hermeneutika Dilthey, yaitu pengumpulan, pemilihan, dan penafsiran data. Data—seperti yang telah diuraikan di atas—diambil dari cerpen Seno Gumira Ajidarma yang berjudul “Jezebel”. Dalam hal ini, cerpen tersebut dapat ditafsirkan sebagai sebuah karya sastra yang menceritakan penggambaran hari akhir atau kiamat. Selain itu, cerpen tersebut juga ditafsirkan sebagai sindiran terhadap suatu kepercayaan dan juga sindiran terhadap jenis karya sastra eksperimentasi yang populer pada tahun 1970-an. Kedua penafsiran tersebut didukung dengan data tambahan berupa terjemahan New Testament, Book of Revelations dalam Kitab Injil, terjemahan surat “Al-Qariah” dalam Kitab Quran, terjemahan lagu berjudul “Jezebel” karya Edith Piaf, terjemahan Book of Kings bangsa Israel dan Judah Kuno, serta artikel-artikel mengenai keadaan jenis sastra eksperimentasi dan Indonesia. Pengumpulan tambahan data tersebut dilakukan untuk mendukung analisis penafsiran terhadap teks. Setelah pengumpulan, pemilihan, dan penafsiran data selesai dilakukan, hal yang dapat dilakukan berikutnya adalah menganalisis kesejarahan teks.
Penafsiran mengenai penggambaran hari akhir atau kiamat dan sindiran terhadap kepercayaan atau ekspremintasi tidak dilakukan tanpa pendukung. Kajian pustaka historis dilakukan untuk mendukung penafsiran agar bersifat objektif. Tafsiran penggambaran hari akhir atau kiamat dalam cerpen “Jezebel” karya Seno Gumira Ajidarma didukung oleh terjemahan New Testament, Book of Revelations dalam Kitab Injil dan terjemahan surat “Al-Qariah” dalam Kitab Quran.
Dalam cerpen “Jezebel” tidak disebutkan bahwa latar tempat dan waktu menggambarkan keadaan hari akhir. Akan tetapi, deskripsi Seno Gumira Ajidarma memiliki kemiripan dengan deskripsi hari akhir yang terdapat dalam Kitab Injil dan Kitab Quran. Cerpen “Jezebel” dibuka dengan kalimat sebagai berikut.
Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana sepanjang pantai itu [...] Berpuluh-puluh mayat, beratus-ratus mayat, beribu-ribu mayat menghampar tak terbilang disiram ombak yang berdebur dan menghempas dengan ganas bagai membantingkan sebuah pesan yang paling kejam dan paling tak mengenal belas.
Deskripsi naratif tersebut memiliki kemiripan dengan ayat keempat surat “Al-Qariah”. الْمَبْثُوثِ كَالْفَرَاشِ النَّاسُ يَكُونُ يَوْمَ (101:4) ‘pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran’[5]. Selain itu, keadaan dalam cerpen juga memiliki kemiripan dengan ayat ketiga bab keenam belas Book of Revelation. And the second angel poured out his vial upon the sea; and it became as the blood of a dead (man): and every living soul died in the sea[6] (16:3) ‘dan malaikat kedua menuangkan botol kecilnya ke laut; dan hal tersebut menjadikan laut seperti darah mayat: dan setiap jiwa yang hidup lalu mati di laut’.
            Keadaan mayat dalam cerpen “Jezebel” karya Seno Gumira Ajidarma seperti menggambarkan keadaan manusia saat kiamat yang terdapat Kitab Quran dan Kitab Injil. Mayat-mayat yang bergelimpangan di sepanjang pantai adalah manusia yang bertebaran seperti anai-anai. Adapun mayat yang dihempas ombak dengan ganas adalah dampak dari malaikat yang menuangkan botol kecilnya dan menyebabkan kematian di laut. Cerpen “Jezebel” karya Seno Gumira Ajidarma menggambarkan keadaan hari akhir yang diadaptasi dari kitab-kitab.
            Penafsiran berikutnya—tentang sindiran terhadap suatu kepercayaan—didukung dengan adanya Book of Kings bangsa Israel dan Judah Kuno. Dalam Book of Kings diceritakan bahwa perempuan bernama Jezebel adalah istri dari Ahab, Raja Israel Utara[7]. Menurut kepercayaan bangsa Israel dan Judah Kuno, Ratu Jezebel menghasut Raja Ahab untuk berpaling dari Yahweh, Tuhan mereka di kala itu, untuk menyembah Baal yang—dalam New Testament (Perjanjian Baru)—lebih dikenal sebagai Beelzebub sang Iblis[8]. Jezebel lalu menganiaya nabi-nabi Yahweh dan menyebabkan kematian seorang pemilik tanah yang tidak ingin menjual tanahnya kepada Raja Ahab. Hal tersebut membawa Jezebel ke pengadilan. Ia kemudian dihukum mati dengan cara dilemparkan dari jendela oleh para hakimnya. Setelah itu mayatnya dijadikan makanan untuk anjing yang kelaparan. Terjemahan Book of Kings tersebut menyatakan bahwa Jezebel adalah seorang Ratu Israel dan Judah Kuno yang tidak disukai oleh rakyatnya karena suka menghasut untuk menyembah Baal sang Iblis. Umat Yahweh kemudian mengutuk Ratu Jezebel dan membunuhnya.
            Dalam lirik lagu Edith Piaf yang berjudul “Jezebel” pun, Jezebel dianggap sebagai perempuan iblis. Lagu tersebut diakui Seno Gumira Ajidarma sebagai sumber inspirasi penulisan cerpen. Hal tersebut ia tuliskan dalam bagian akhir cerpen “Jezebel” dalam buku Sepotong Senja untuk Pacarku[9]. Edith Piaf adalah penyanyi kabaret asal Prancis yang diakui sebagai diva nasional Prancis dan bintang terbesar bagi rakyat Prancis[10]. Lagu “Jezebel” adalah lagu yang diciptakan oleh Wayne Shanklin dengan menggunakan bahasa Inggris. Edith Piaf merekam versi bahasa Prancis dari lagu tersebut pada tahun 1951. Dengan demikian, terdapat dua versi lirik pula, pertama adalah lirik berbahasa Inggris dan kedua adalah lirik berbahasa Prancis.
If ever the devil was born,
Without a pair of horns
It was you,
Jezebel, it was you.
‘Jika sesosok Iblis dilahirkan,
Tanpa mempunyai sepasang tanduk
Ialah dirimu,
Jezebel, ialah dirimu.’

Ce demon qui brulait mon coeur
Cet ange qui sechait mes pleurs
C'etait toi, Jezebel, c'etait toi[11]
‘Setan ini yang membakar hatiku
Malaikat ini yang mengeringkan air mataku
Itu Anda, Jezebel, itu Anda’
Dalam lirik lagu tersebut tersurat bahwa Jezebel adalah setan. Dalam bahasa Inggris, Jezebel digambarkan seperti jelmaan Iblis yang tidak mempunyai tanduk. Adapun dalam bahasa Prancis, Jezebel digambarkan sebagai setan yang memainkan hati manusia. Kedua terjemahan tersebut dapat menjadi data pendukung sindiran yang terdapat dalam cerpen “Jezebel” karya Seno Gumira Ajidarma. Sindiran tersebut adalah sindiran yang dilemparkan kepada umat Yahweh atau Israel dan Judah Kuno.
Sindiran terhadap umat Yahweh terjadi ketika Jezebel dalam cerpen “Jezebel” digambarkan sebagai satu-satunya makhluk yang masih hidup di muka bumi ketika kiamat terjadi. Hal tersebut seakan menyatakan bahwa Ratu Jezebel, sang penyembah Iblis, adalah satu-satunya makhluk yang benar. Artinya, dengan menyembah Baal, Jezebel diberikan keabadian, sedangkan manusia-manusia lain yang tidak menyembah Baal diberikan kematian.
“Aku lelah,” katanya (Jezebel) kepada angin, “siapa yang tidak lelah berjalan tanpa henti sepanjang pantai menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan? Tapi aku tidak bisa berhenti meskipun aku sudah hampir tidak kuat lagi. Harus ada yang setidaknya melihat mayat-mayat itu. Harus ada yang sekadar menghormatinya. Kalau tidak, siapa yang akan melakukannya? Tiada lagi manusia yang masih tersisa di muka bumi ini. Aku sendirian tak mungkin mengubur mereka semua, bahkan untuk menengoknya pun barangkali seluruh waktu hidupku tidak akan pernah cukup. Pantai ini tidak ada ujungnya dan mayat-mayat bertebaran sepanjang pantai tak terbilang. Harus ada yang sekadar menengoknya meski tidak bisa berbuat apa-apa, meskipun semuanya sudah punah. Tinggal aku sendiri di dunia menjalani ziarah yang panjang ini, yang tak akan pernah cukup untuk duka kehidupan di muka bumi.”
Potongan paragraf di atas dapat ditafsirkan sebagai sindiran untuk umat Yahweh. Bangsa Israel dan Judah Kuno dianggap melakukan kesalahan karena pada akhirnya hanya Ratu Jezebel yang dapat hidup abadi dan dapat menyaksikan kematian manusia yang tidak menyembah Baal. Sindiran terhadap suatu kepercayaan seperti ini tidak saja dilakukan oleh Seno Gumira Ajidarma (entah Seno Gumira Ajidarma melakukan sindiran dengan sengaja atau tidak). Akan tetapi, A.A. Navis sudah lebih dulu melakukan sindiran kepada umat Islam dengan cerpen “Robohnya Surau Kami” (1956). Selain itu, sindiran terhadap umat Kristen dan Katolik juga dilakukan oleh Dan Brown dengan bukunya yang berjudul The Da Vinci’s Code (2003). Dalam cerpen “Robohnya Surau Kami”, Navis menyindir umat Islam dengan mengatakan bahwa seorang haji yang taat beribadah kepada Allah akan tetap masuk neraka jika tidak berbakti kepada bangsa. Adapun, Dan Brown menyindir umat Kristen dan Katolik dengan mengatakan bahwa Yesus memiliki keturunan dari hasil persetubuhannya dengan seorang pelacur bernama Maria Magdalena.
Sindiran lain yang dapat ditafsirkan dari cerpen “Jezebel” adalah sindiran terhadap keadaan jenis eksperimentasi sastra Indonesia. Maman S. Mahayana, dalam bukunya yang berjudul Kitab Kritik Sastra (2015), mengatakan bahwa ketika tahun 1970-an sastra Indonesia dilanda semangat eksperimentasi, sejalan dengan gerakan “kembali ke akar, kembali ke tradisi”. Pada tahun-tahun tersebut, sastra Indonesia seakan meninggalkan “kebarat-baratannya” dan bergeser untuk menonjolkan budaya Indonesia. Karya-karya beraliran filsafat Barat seperti karya-karya Iwan Simatupang mulai digantikan dengan karya-karya Kuntowijoyo dan Gus Mus yang dikaitkan dengan spiritualitas mistik Jawa dan tasawuf. Aliran filsafat Barat digantikan dengan kepercayaan Jawa dan Islam. Keberadaan cerpen “Jezebel” karya Seno Gumira Ajidarma yang ditulis pada tahun 1999 seakan ingin “mengajak” kembali para penikmat sastra Indonesia untuk menikmati aliran Barat. Oleh karena itu, cerpen “Jezebel” karya Seno Gumira Ajidarma dapat ditafsirkan sebagai sindiran untuk menyudahi eksperimentasi budaya Jawa dan Islam.
Berakhirnya pemaparan mengenai keadaan sejarah dan penafsiran data cerpen “Jezebel” menandakan bahwa kaidah ketiga hermeneutika Dilthey juga telah diterapkan. Dilthey menyebutkan bahwa kaidah terakhir hermeneutikanya adalah penyelesaian lingkaran hermeneutik pemahaman. Prinsip pemahaman Dilthey tersebut diakhiri dengan proses imajinatif pemahaman[12]. Artinya, dalam membaca karya sastra, pembaca terpanggil untuk membangun pengalaman kembali tentang manusia secara imajinatif dan menghubungkan pengalaman kejiwaan yang disajikan karya dengan pengalaman pembaca yang diperoleh dalam pembelajaran tentang sejarah dan lain sebagainya[13]. Usaha penyambungan kutipan dalam cerpen “Jezebel” karya Seno Gumira Ajidarma dengan keadaan sejarah telah menuntaskan penyelesaian lingkaran hermeneutik pemahaman. Pengalaman kejiwaan yang didapatkan dari membaca cerpen “Jezebel” membuat penafsir teringat kepada penggambaran hari kiamat yang terdapat dalam Kitab Injil dan Kitab Quran. Setelah itu penafsir dapat mengembangkan proses imajinatif pemahaman dengan melakukan lebih banyak kajian pustaka historis terhadap teks.
Sebagai sebuah cerpen yang menggambarkan keadaan hari akhir atau menyindir kepercayaan suatu umat, tentu Seno Gumira Ajidarma bukanlah orang pertama yang telah menuliskannya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, cerpen “Robohnya Surau Kami” karya Navis pun sudah menggambarkan keduanya terlebih dulu pada tahun 1956. Dalam hal ini, Ajidarma kehilangan unsur inovasi. Akan tetapi, usahanya untuk menyindir eksperimentasi tahun 1970-an Indonesia menjadi hal yang patut dilihat kembali. Cerpen “Jezebel” seakan mengatakan, “sudah cukup,” kepada model karya sastra eksperimentasi yang mengadaptasi kebudayaan Jawa ataupun Islam. Seno Gumira Ajidarma mengembalikan minat “kebarat-baratan” dengan mengadaptasi sebuah lagu asal Prancis dan cerita asal Israel.
Sebuah karya sastra dapat diinterpretasikan dengan bebas oleh pembaca. Akan tetapi, penafsiran yang bersifat pribadi cenderung membuahkan interpretasi karya sastra yang subjektif. Kritik sastra harus memberikan kritik yang objektif. Demi menghindari penafsiran subjektif, dibutuhkan data-data pendukung kesejarahan teks yang mengobjektifkan interpretasi. Penafsiran yang telah dilakukan penulis terhadap cerpen “Jezebel” karya Seno Gumira Ajidarma adalah penafsiran dengan cara hermeneutika Dilthey. Dalam hermeneutika Dilthey, pembuktian kesejarahan menjadi pendukung terpenting untuk menafsirkan suatu karya sastra. Dengan demikian, penulis dapat menggunakan hermeneutika Dilthey untuk menafsirkan cerpen “Jezebel” karya Seno Gumira Ajidarma sebagai cerpen yang menggambarkan keadaan hari kiamat, menyindir kepercayaan suatu umat, dan menyindir keadaan eksperimentasi sastra Indonesia.


Daftar Acuan
Ajidarma, Seno Gumira. 2002. Sepotong Senja untuk Pacarku “Jezebel” (1999). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Book of Revelation. Diakses dari http://www.discoverrevelation.com/Rev_16.
Dilthey, Wilhelm. 1957. Das Erlebnis und die Dichtung: Lessing Goethe, Novalis, Hoerderlin. Gottingen: Vandenbeck & Ruprecht.
Eliade, Mircea. 1993. The Encyclopedia of Religion. Macmillan Reference Books.
html, pada tanggal 1 Juni 2015, pukul 01.08 WIB.
Huey, Stev. "Edith Piaf: Biography". Yahoo! Music. Diakses pada tanggal 3 September 2009.
Indeks Al-Qur’an Hadits Online: Database Surat Ayat Al-Qur’an Hadits dan Terjemahannya. Diakses dari http://mizan-poenya.blogspot.com/2010/11/al-quran-dan-terjemahan-surat-101-al.html, pada tanggal 1 Juni 2015, pukul 00.57 WIB.
Knowles, Elizabeth. 2006. "Jezebel". The Oxford Dictionary of Phrase and Fable, OUP.
Kusniarti, Tuti. 2010. “Teks Sastra sebagai Media Komunikasi Antarbangsa (Kajian atas Novel Dari Fontenay ke Magallianes Karya N.H. Dini)”. Jurnal Bahasa dan Seni, Volume 11, Nomor 1, tahun 2010.
Lyrics Translate. Diakses dari http://lyricstranslate.com/en/jezebel-jezebel.html-2, pada tanggal 1 Juni 2015, pukul 01.44 WIB.
Palmer, Richard E. 1969. Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger and Gadamer. Evanston: Northwestern University Press.
Toorn, K. v. d., Becking, B., & Horst, P. W. v. d. 1999. Dictionary of Deities and Demons in the Bible DDD (2nd extensively rev. ed.) (154). Leiden; Boston; Grand Rapids, Mich.: Brill; Eerdmans.
W.M., Abdul Hadi. 2014. Hermeneutika Sastra Barat dan Timur. Jakarta: Sadra International Institute.



[1] Esai Kritik Sastra, dikumpulkan untuk memenuhi Ujian Akhir Semester mata kuliah Kritik Sastra Indonesia, Program Studi Indonesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, tahun ajaran 2014/2015.
[2] Diambil dari Abdul Hadi W.M.. 2014. Hermeneutika Sastra Barat dan Timur. Jakarta: Sadra International Institute. Halaman 33.
[3] Ibid., Halaman 105.
[4] Seno Gumira Ajidarma. 2002. Sepotong Senja untuk Pacarku. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
[5] Diambil dari Indeks Al-Qur’an Hadits Online: Database Surat Ayat Al-Qur’an Hadits dan Terjemahannya. Diakses dari http://mizan-poenya.blogspot.com/2010/11/al-quran-dan-terjemahan-surat-101-al.html, pada tanggal 1 Juni 2015, pukul 00.57 WIB.
[6] Diambil dari Book of Revelation. Diakses dari http://www.discoverrevelation.com/Rev_16.html, pada tanggal 1 Juni 2015, pukul 01.08 WIB.
[7] Elizabeth Knowles. 2006. "Jezebel". The Oxford Dictionary of Phrase and Fable, OUP.
[8] Toorn, K. v. d., Becking, B., & Horst, P. W. v. d. 1999. Dictionary of Deities and Demons in the Bible DDD (2nd extensively rev. ed.) (154). Leiden; Boston; Grand Rapids, Mich.: Brill; Eerdmans.
[9] Seno Gumira Ajidarma, op. cit., halaman 30.
[10] Steve Huey. "Edith Piaf: Biography". Yahoo! Music. Diakses pada tanggal 3 September 2009.
[11] Diambil dari Lyrics Translate. Diakses dari http://lyricstranslate.com/en/jezebel-jezebel.html-2, pada tanggal 1 Juni 2015, pukul 01.44 WIB.
[12] Abdul Hadi W.M., op. cit., halaman 105.
[13] Ibid., halaman 105.

No comments:

Post a Comment