“Kindness in words creates confidence. Kindness in thinking creates profoundness. Kindness in giving creates love.” ― Lao Tzu

March 02, 2015

Maksim dan Deiksis dalam Lirik Lagu "Di Udara" Karya Efek Rumah Kaca: Analisis Pragmatik Terhadap Implikatur Kasus Munir

Gambar untuk keperluan Blog. Diambil dari http://userserve-ak.last.fm/serve/_/89040767/Efek+Rumah+Kaca++PNG.png.

Lirik lagu, dalam Oxford’s Learner Dictionary (7th Edition) karya Hornby (dalam Kurniawan, 2012:13), didefinisikan sebagai puisi yang mengekspresikan perasaan atau pikiran seseorang dan disampaikan dengan cara dinyanyikan (Hornby, 2005:921)[1]. Adapun menurut Mihalcea dan Strapparava dalam Lyrics, Music, and Emotions, lirik adalah salah satu cara untuk mengungkapkan emosi yang ada dalam musik atau lagu (Mihalcea dan Strapparava, 2012:594). Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa lirik lagu adalah puisi yang berisi tentang ekspresi perasaan dan ungkapan emosi, disampaikan dalam musik dengan cara dinyanyikan.
            Makna ekspresi dan emosi dalam lirik lagu dapat dianalisis melalui kajian pragmatik. Seperti yang disebutkan dalam Kamus Linguistik Edisi Keempat karya Harimurti Kridalaksana, pragmatik adalah aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran (Kridalaksana, 2008:198). Akan tetapi makna tidak selalu terungkap dalam ujaran. Makna tersebut dapat dikatakan sebagai implikatur percakapan. Implikatur percakapan, menurut Kushartanti dalam “Pragmatik” Pesona Bahasa, adalah maksud tertentu yang disampaikan oleh pembicara ketika mengujarkan sesuatu (Kushartanti, 2005:106). Disebutkan juga oleh Harimurti Kridalaksana, bahwa implikatur percakapan adalah makna yang dipahami tetapi tidak atau kurang terungkap dalam apa yang diucapkan (Kridalaksana, 2008:91). Artinya, implikatur percakapan adalah makna yang tidak langsung disampaikan oleh pembicara dalam tuturannya tetapi dipahami oleh lawan bicaranya.
            Implikatur percakapan dapat dimengerti ketika perkataan seorang pembicara relevan dengan situasinya. Oleh karena itu perkataan seseorang juga harus memiliki maksim agar dapat memenuhi relevansi suatu tuturan. Dalam artikel yang berjudul “Logic and Conversation” Syntax and Semantics karya Grice, maksim adalah sebuah prinsip untuk memenuhi informasi yang disampaikan agar pembicaraan menjadi komunikatif (Grice, 1975:45). Kushartanti membagi maksim ke dalam empat bagian yaitu maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara. Maksim-maksim tersebut nantinya akan mengungkapkan makna yang terdapat dalam implikatur percakapan.
            Suatu makna juga dapat dibuktikan melalui analisis deiksis. Stephen Levinson, dalam “Deixis” The Handbook of Pragmatics, mengatakan bahwa deiksis memperkenalkan suatu konteks dalam tuturan dengan subjektif dan disengaja (Levinson, 2006:97). Adapun George Yule dalam Pragmatics mengatakan bahwa deiksis adalah salah satu hal yang paling dasar yang kira lakukan dengan ucapan, artinya memberi petunjuk melalui bahasa (Yule, 1996:9). Deiksis terbagi ke dalam tiga bagian yaitu deiksis ruang, deiksis waktu, dan deiksis persona (Kushartanti, 2005:111-112). Dengan menggunakan analisis deiksis, implikatur dapat dengan lebih mudah dirujuk sesuai dengan konteks sehingga makna dapat terlihat.
            Lirik lagu yang berjudul “Di Udara” karya sebuah grup musik asal Indonesia, Efek Rumah Kaca, memiliki makna yang tidak diungkapkan secara langsung. Implikatur dalam lirik lagu tersebut yang dapat dilihat adalah peristiwa pembunuhan Munir. Lagu tersebut termasuk ke dalam album Efek Rumah Kaca yang dirilis pada tahun 2007 oleh Paviliun Recors. Cholil Mahmud, vokalis dari grup tersebut mengaku bahwa lagu “Di Udara” terinspirasi dari sosok Munir[2]. Berikut adalah lirik lagu “Di Udara” karya Efek Rumah Kaca.



Aku sering diancam
juga teror mencekam
Kerap ku disingkirkan
sampai di mana kapan

Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti

Aku sering diancam
juga teror mencekam
Ku bisa dibuat menderita
Aku bisa dibuat tak bernyawa
di kursi-listrikkan ataupun ditikam

Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti
Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti

Ku bisa dibuat menderita
Aku bisa dibuat tak bernyawa
di kursi-listrikkan ataupun ditikam

Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan

Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti[3]

Munir Said Thalib Al-Kathiri adalah seorang aktivis HAM Indonesia yang diracun saat melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Amsterdam dengan menggunakan pesawat[4]. Hal tersebut membuatnya meninggal di dalam pesawat yang ia tumpangi pada tahun 2004. “Di Udara” karya Efek Rumah Kaca memiliki implikatur yang membicarakan peristiwa tersebut. Analisis maksim dan deiksis dapat membantu untuk membuktikan makna yang tidak diungkapkan secara langsung tersebut.
Teori yang akan digunakan untuk membahas tentang maksim adalah teori yang dikemukakan oleh Grice (1975) yang menyebutkan empat macam maksim. Empat macam maksim tersebut ialah maxim of quantity, maxim of quality, maxim of relevance, dan maxim of manner. Keempat maksim tersebut telah dipaparkan ulang oleh Kushartanti (2005) dalam Pesona Bahasa. Teori mengenai deiksis akan diambil dari Levinson (2006). Hanya saja dari lima deiksis yang disebutkan oleh Levinson, analisis dalam makalah ini hanya akan membatasi deiksis menjadi tiga. Ketiga deiksis tersebut ialah deiksis persona, deiksis waktu, dan deiksis ruang. Teori tersebut juga telah dipaparkan ulang dalam Pesona Bahasa kecuali deiksis sosial. Dengan begitu Pesona Bahasa akan menjadi acuan yang membantu pemahaman karena paparannya telah lebih jelas dikemukakan dalam bahasa Indonesia.



FILE DOWNLOAD:
https://docs.google.com/document/d/1IpM-mLVVhakHYdubuHRk1AwpN5njsz4-bhKEiXn3sMM/edit?usp=sharing





[1] Diambil dari Indraswari Pangestu. 2012. Kritik Sosial dalam Lirik-Lirik Lagu Efek Rumah Kaca. Depok: Universitas Indonesia.
[2] Rama Wirawan. 2011. “Vokalis Efek Rumah Kaca: Munir Adalah Seorang Tauladan” http://rollingstone.co.id/read/2011/09/06/165444/1716764/1093/vokalis-efek-rumah-kaca-munir-adalah-seorang-tauladan. Diakses pada 22 Desember 2014, pukul 21.17 WIB.
[3] Diambil dari Efek Rumah Kaca. “Di Udara” http://lirik.kapanlagi.com/artis/efek_rumah_kaca/di_udara, diakses pada 22 Desember 2014, pukul 21.25 WIB.
[4] Diakses dari http://www.kontras.org/munir/, pada 22 Desember 2014, pukul 21.12 WIB.

No comments:

Post a Comment